10 tips untuk menjadi Agen Properti dari "Ir. Eddie muljawan soeredjo"
1.Semangat dan Antusiasme

Setiap orang harus memiliki semangat dan antusiasme. Hal inilah yang diungkapkan oleh Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA
Buku bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing ini memaparkan sederetan tips yang mengantarkan Eddie menjadi agen properti yang sukses. Dia sudah menekuni profesinya selama 23 tahun.
Rahasia pertama yang diungkapkan Eddie adalah semangat yang antusias. “Saya harus menunjukkan spirit yang hidup secara terbuka mulai dari penampilan dan ketika berbicara,” ujar Eddie . Eddie menyatakan sebagai agen properti, dia harus tampil dengan baik. Menurutnya, bagaimana seorang agen bisa menyakinkan klien untuk menyelesaikan masalah kalau tampil kurang bugar dan tidak meyakinkan.
Dia menjaga pola makan dengan baik. Eddie menyantap buah-buahan, mengatur jenis makanan, serta tidak lupa berolahraga secara rutin. Tidak lupa, dia selalu bangun sebelum matahari terbit. Pola hidup sehat ini membuat Eddie selalu tampil bugar dan energik.
Selain fisik yang prima, Eddie juga menyatakan kalau seorang agen properti harus berpikiran terbuka dan progresif. Agen juga mesti memiliki integritas. Hal ini penting karena dia memang memasarkan dan menjual properti sekunder yang harganya mencapai puluhan miliar.
Integritas ini penting karena agen properti tidak hanya berhubungan dengan klien. Dia akan menjalin relasi dengan banyak pihak seperti notaris, perbankan, dan lainnya.
Jalinan relasi dengan berbagai pihak ini memudahkan kerja agen. Apalagi, klien baik penjual maupun pembeli menginginkan transaksi yang berjalan dengan baik dan lancar.
Agen properti harus memastikan semua itu dengan menghubungi sejumlah pihak. Untuk memastikan pekerjaan berjalan lancar, Eddie menyiasatinya dengan membawa dokumen. Jadi saat klien menanyakan sesuatu, dia bisa menjawabnya dengan cepat.
“Bersemangatlah sepanjang waktu selama kita dikaruniakan kehidupan dan kesehatan oleh Sang Empunya Kehidupan.” (Ir. Eddie Mulyawan Soetedjo CPA)
2.Ketenangan dan Kesabaran

Apa persamaan lari marathon dengan bisnis properti? Keduanya membutuhkan stamina yang kuat dan kemampuan mengelola energi sehingga dapat bertahan hingga penghujung lintasan.
Analogi ini diungkapkan oleh Ir. Eddie Muljawan Soetedjo dalam bukunya bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia memaparkan sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Rahasia kedua yang diulas oleh Eddie adalah kekuatan dari ketenangan dan kesabaran. Dia memberikan ilustrasi berupa perjuangan pelari marathon asal Kenya, Eliud Kipchonge.
Marathon merupakan lari jarak jauh yang menempuh jarak lebih dari 42 km. Lari jarak jauh tidak hanya membutuhkan stamina prima, tetapi juga mengelola pikiran. Semua ini membutuhkan latihan, latihan, dan latihan.
Sama halnya dengan menjalani profesi sebagai agen properti. Bagi Eddie, mustahil kalau seorang agen properti mampu dan berhasil mengatasi masalah demi masalah dalam deal properti jika tidak melatih diri sebelumnya.
“Hal pertama yang harus dikuasai adalah ketenangan dan kesabaran. Bagaimana kita bisa menjadi orang yang mampu bersikap tenang ketika menghadapi masalah yang berat atau pelik, dan bagaimana kesabaran dilatih oleh masalah-masalah yang berat itu justru menjadi kunci utama pendobrak masalah,” ujar Eddie. Eddie melanjutkan kalau ketenangan dan kesabaran justru menjadi pembuka jalan dalam menemukan alternatif solusi. Semua itu bermula dari latihan mengelola pikiran serta menjaga stamina pikiran dan tubuh. Banyak hal dan masalah yang bisa menguji kesabaran dan ketenangan seseorang. Kondisi jalanan macet, deal yang sulit, dan lainnya.
Kalau ada masalah sebaiknya seseorang berupaya mencari cara untuk menenangkan diri. Kamu bisa mandi, tidur, olah raga, makan, meditasi, dan lainnya. Rehat sejenak dari masalah, lantas mencari solusinya.
“Menjadi tenanglah dan bersabarlah dahulu, karena di situlah kekuatan melahirkan solusi akan muncul.” (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA).
3.Jadilah Konsultan, Bukan Tukang Jualan

Agen properti atau broker bukanlah sekedar salesman atau tenaga penjualan belaka. Namun, agen properti harus bisa menjadi konsultan.
Broker tidak hanya memberikan konsultasi kepada penjual properti, tetapi juga pembeli. Dia harus bisa mengetahui dan memahami kebutuhan penjual dan pembeli.
Hal inilah yang diungkapkan oleh Ir. Eddie Muljawan Soetedjo dalam bukunya bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia memaparkan sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Rahasia ketiga yang diulas oleh Eddie adalah peran agen properti yang harus menjadi konsultan dan bukan sekedar menjadi tenaga pemasaran dan penjualan.
Hal ini diungkapkan oleh Eddie yang kebetulan memilih memasarkan dan menjual properti di pasar sekunder. Dia menyatakan kalau pasar di segmen ini sudah tertentu berbeda jauh dengan pasar primer.
Menurut Eddie, agen properti harus bisa memberikan solusi kepada klien-kliennya yaitu penjual dan pembeli. Dia mesti mengetahui dan memahami keinginan dan kebutuhan mereka.
Keahlian menjual tidaklah cukup. Agen properti harus memahami penjual dan juga detil produk properti yang akan dipasarkan. Dengan begitu, dia bisa mengetahui calon pembeli yang membutuhkan produk yang sedang dijual.
Mungkin ada penjual yang ingin segera menjual rumahnya karena ingin pindah, membutuhkan uang, dan lainnya. Mungkin ada pembeli tidak membutuhkan hunian, namun mencari tempat usaha.
Sebenarnya, agen properti tidak hanya memberikan solusi kepada penjual dan pembeli, tetapi juga pihak lain termasuk notaris, pihak perbankan, dan pihak pemerintah.
Agen juga harus bisa mewakili kepentingan penjual. Dia pun mesti dapat mengetahui keseriusan dan kemampuan pembeli.
Seorang agen tidak cukup hanya sekadar membangun citra supaya bisa disukai. Agen harus dapat dipercaya, kalau itu terjadi maka bisnis pun bisa terjadi.
Mau sukses di bisnis properti? Jadilah konsultan, jangan asal jualan (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA)
4.Jangan Hanya Mikirin uang

Uang atau duit memang penting. Namun, banyak hal yang jauh lebih penting saat menekuni sebuah profesi atau pekerjaan seperti agen properti.
Seorang agen properti pasti mendapatkan uang komisi setelah berhasil memasarkan dan menjual properti. Tetapi, patut diingat juga kalau proses memperolehnya harus dinikmati.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengutarakan hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia memaparkan sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Eddie sudah menjadi broker lebih dari 23 tahun. Dia sering bekerja sama dengan agen dari kantor properti yang sama atau kantor yang berlainan alias co-broking.
Dia sering kali menemukan kalau agen properti sudah memikirkan uang, padahal kesepakatan belum tercapai. Eddie mengibaratkan kalau sedang mengantarkan seseorang ke pulau seberang, namun di tengah jalan sudah bicara uang komisi.
“Jangan ngomong duit melulu, padahal kerja masih berantakan,” ujar Eddie seperti dikutip dari bukunya halaman 30.
Jika seseorang terus bicara uang tanpa memerhatikan kualitas pekerjaan, Eddie menyatakan kalau biasanya orang tersebut kurang tekun. Kalau bertemu masalah, maka cenderung menghindari.
Eddie mengisahkan dia pernah mendapatkan klien yang ingin menjual rumahnya. Dia diminta tolong untuk membayar tagihan listrik, telepon, dan air. Bahkan, juga diminta tolong untuk membersihkan rumah.
Bagi agen properti yang hanya memikirkan uang, pastinya tidak mau melakukannya. Padahal banyak peluang yang bisa didapatkan di kemudian hari.
Rumah klien ini kemudian terjual, namun bukan melalui Eddie. Tetapi, klien masih mengingat jasanya dan sempat menelepon Eddie di kemudian hari. Bahkan, klien memberikan nomor telepon Eddie kepada para koleganya yang ingin menjual propertinya.
Bagi Eddie, seorang agen properti harus bisa membantu sekecil apa pun permintaan klien. Jika bisa dilakukan, lakukan saja. Pasti ada peluang lain yang akan diberikan klien pada waktu yang akan datang.
5.Mengubah sikap menjadi Energi Positif

Lingkungan bisa berdampak kepada seseorang. Apalagi lingkungan yang buruk, namun seseorang harus bisa membuat agar dia tidak terpengaruh.
Seseorang harus dapat mengubah sikap menjadi energi positif dalam setiap interaksi. Ketimbang khawatir mengenai hal yang tidak dapat dikendalikan, lebih baik mengalihkannya menjadi energi yang dapat diciptakan.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengutarakan hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia memaparkan sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Dia memberikan ilustrasi mengubah transformasi energi dengan memaparkan kisah hidup Nobuyuki Nobu Matsuhisa. Dia adalah celebrity chef dan pengusaha restoran yang ngetop lewat kuliner fusion tradisional Jepang dengan bumbu rempah Peru.
Matsuhisa sempat menjadi tukang cuci piring di sebuah restoran di Tokyo, Jepang. Dia melakoninya selama tiga tahun. Tugas utamanya hanya mencuci piring dan membersihkan ikan.
Lantas dia naik pangkat menjadi asisten chef. Dia berkenalan dengan seorang pelanggan asal Peru. Matsuhisa diajak untuk membuat restoran Jepang di negara tersebut.
Matsuhisa kesulitan menemukan bumbu di Peru sehingga dia memanfaatkan bahan yang ada untuk membuat kuliner fusion. Dia sempat membuka restoran di Amerika Serikat, gagal karena terbakar, kemudian dia bangkit lagi sehingga akhirnya dia bisa memiliki 40 restoran di beberapa negara.
Eddie ingin menunjukkan bagaimana seseorang bisa bertumbuh secara positif dalam lingkungan yang terkesan negatif. Bayangkan Matsuhita harus sabar menjadi tukang cuci piring selama tiga tahun.
Tekanan yang mungkin serupa dialami Eddie saat menjalani kariernya sebagai agen properti lebih dari dua puluh tahun silam. Banyak hal yang harus dia pelajari, dia ubah, dan dia lakukan.
Eddie harus beradaptasi dengan tuntutan profesi. Dia berusaha menjadi profesional. Eddie mulai luwes bergaul, mengubah penampilan, dan lainnya.
Semua ini menjadi modal Eddie dalam menekuni profesi agen properti. Dia bisa menjalin komunikasi yang baik dengan penjual, pembeli, notaris, pihak perbankan, dan lainnya. Dia menemukan beragam masalah namun Eddie merasa hal itu harus diatasi agar dia bisa naik ke level yang lebih tinggi.
“Jadilah energy transformer bagi lingkungan, ketika melihat lingkungan kita tidak kondusif. Jangan terbaurkan oleh keadaan yang buruk agar kita bisa menciptakan perbedaan.” (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA).
6. Kebohongan Kecil Bisa Hancurkan Reputasi

Ketidakpercayaan seseorang kepada agen properti bisa menjadi penghalang terbesar terjadinya sebuah hubungan yang efektif. Agen properti harus dapat membuat orang bisa percaya kepadanya dan tidak melakukan sedikit pun kecurangan.
Seorang motivator ternama asal Amerika Serikat, Zig Ziglar memiliki pengalaman panjang dalam bertemu jutaan praktisi penjualan dari seluruh dunia. Dia memiliki kesimpulan mengenai rintangan dalam penjualan.
Ada lima hal yang dikemukannya yaitu tidak ada kebutuhan, tidak ada uang, tidak mendesak, tidak ada keinginan, dan tidak ada kepercayaan. Empat hal bisa berasal dari konsumen, namun hal terakhir merupakan hal yang melekat pada penjual.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengutarakan hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia mengulas sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Tips yang dibahas oleh Eddie kali ini adalah suatu tindakan kurang terpuji meski kecil bisa menghancurkan banyak hal termasuk reputasi, impian, dan lainnya.
Dia memberikan ilustrasi mengenai pemilik rumah yang ingin menjual rumahnya seharga Rp2 miliar. Setelah melalui analisis agen properti, rumah tersebut hanya bernilai Rp1,8 miliar.
Namun, karena pemilik terdesak dan ingin segera menjualnya dengan harga Rp1,7 miliar. Padahal ada pembeli yang mau membayarkan Rp1,8 miliar.
Permainan bisa terjadi kalau agen properti berlaku tidak jujur. Sebaliknya, agen properti akan mencari jalan tengah agar penjual dan pembeli bisa sama-sama memperoleh keuntungan.
Bagi Eddie, agen properti yang hanya mengejar uang semata dan memburu komisi tidak peduli masalah hubungan yang saling percaya. Padahal hal ini bisa menghancurkan reputasi broker.
Hal lain yang harus dikuasai agen properti adalah pengetahuan mengenai peruntukan sebuah lokasi. Konsumen membeli properti untuk usaha, namun broker tidak tahu atau mungkin menyepelekan masalah ini.
Apa jadinya kalau broker mengiyakan rumah bisa menjadi tempat usaha, tetapi peraturan melarang. Nah, apesnya konsumen sudah terlanjur membeli. Kepercayaan terhadap agen bisa hancur. Eddie mengingatkan kalau agen harus bisa membina hubungan jangka panjang dan kepercayaan.
“Kita tidak dapat membangun reputasi di atas cacat silat lidah kita sendiri”. (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA)
7. Selalu Bisa Mendengarkan

Banyak orang berpikir kalau proses menjual itu sama dengan banyak bicara. Tetapi, jangan lupa kalau tenaga penjualan yang tergolong efektif adalah mereka yang mau mendengar. Tenaga penjualan mesti memahami kalau mendengarkan adalah hal terpenting dalam pekerjaan mereka.
Tenaga penjualan alias agen properti menemui beragam macam orang dalam menjalani pekerjaan mereka. Penjual dan pembeli yang punya latar belakang berbeda, keinginan beragam, dan lainnya. Untuk itu, agen harus bisa mendengarkan dan memahami penjual dan pembeli.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengutarakan hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia mengulas sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Eddie mengungkapkan kalau dia memang tergolong agen properti yang cerewet. Dia mengajukan banyak pertanyaan kepada penjual dan pembeli. Dia harus mengetahui status kepemilikan rumah, jenis sertifikat, luas rumah, hingga alasan menjual.
Dia juga melontarkan sederetan pertanyaan kepada pembeli. Konsumen mau membeli untuk keperluan apa, membayar secara tunai atau melalui KPR (kredit pemilikan rumah).
“Saya menjadi bagian dari jiwa penjual, dan pada saat yang sama, saya menjadi bagian dari hati pembeli,” ujar Eddie dalam bukunya halaman 57.
Broker juga mesti bisa memahami pembeli. Eddie selalu menggali informasi dari pembeli. Apakah pembeli memang berminat atau sekadar membandingkan beberapa properti sekaligus.
Keduanya mesti dipahami karena baik penjual dan pembeli memiliki ego. Broker akan menjadi perantara bagi kedua pihak.
Semua hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan dari penjual dan pembeli. Bagi Eddie, pembeli dan penjual merupakan raja yang harus dilayani sebaik mungkin. Dia berusaha melayani sebaik mungkin seperti halnya ketika melayani pasangan, keluarga, atau sahabat.
Berbicara bukanlah pintu gerbang sukses seorang agen properti. Mendengarkan dan memahami kebutuhan penjual dan pembelilah yang lebih penting. Kita mampu berkomunikasi secara efektif jika kita berhasil memahami mereka. (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA
8. Menciptakan Wawasan yang Relevan

Banyak masalah yang dihadapi dalam menjalani setiap profesi, begitu juga dengan agen properti. Untuk itu, seorang broker harus belajar dan terus belajar.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengungkapkan hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia mengulas sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Eddie memberikan dua contoh mengenai sosok yang pantang menyerah. Mereka mau memperdalam dan memperluas wawasan.
Contoh pertama adalah Bette Davis, seorang aktris asal Amerika Serikat. Aktris ini sering menemui penolakan dan beragam tantangan. Aktris ini berkarier dari 1920-an hingga 1980-an.
Namun, Davis menciptakan jalur kariernya sendiri. Dia menerima tantangan berupa peran yang ditolak sebagian besar aktris lainnya.
Contoh lainnya adalah Hamilton Naki. Pria berkulit hitam ini hanyalah buruh di Universitas Cape Town, Afrika Selatan. Meski dia hanya membersihkan laboratorium, dia mengamati pekerjaan dokter.
Kemudian dia menjadi asisten teknis seorang dokter berkulit putih. Dia ikut melakukan operasi. Pencapaiannya baru diakui pada 1991 ketika politik perbedaan warna kulit Apartheid dihapuskan. Naki mendapatkan gelar kehormatan master of science.
Eddie ingin berbagi mengenai perjuangan hidup seseorang yang tidak mau mengalah terhadap tekanan lingkungan. Dia pun melakukan hal yang sama.
Dia sudah menekuni profesi agen properti selama 23 tahun lebih. Eddie belajar banyak hal tentang properti dan hal lainnya. Dia berguru kepada banyak orang, ikut pelatihan, dan lainnya.
Pria yang memiliki latar belakang arsitek ini terus memperdalam dan memperluas wasawan. Hal ini memperkaya dirinya dalam melakukan pekerjaannya sebagai agen properti. Apalagi dia harus berhubungan dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda.
“Saya membuka mata dan telinga saya lebar-lebar sebelum berbicara. Lingkungan dan orang-orang di sekitar kita adalah informasi berharga bilamana kita tahu bagaimana mengolahnya. (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA).
9. Percaya Diri Hadapi Krisis

Agen harus memulainya dari sikap positif terhadap diri sendiri saat memulai semuanya. Sikap positif menjadi awal dalam menambah wawasan.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo mengulas hal tersebut dalam bukunya yang bertajuk The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia memaparkan sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Rasa percaya diri membuat agen properti bisa memperlengkapi diri sekaligus menghadapi banyak hal. Saat pasar terlihat lesu dan situasi kondisi ekonomi makro tampak suram, agen properti harus mempunyai rasa percaya diri untuk tetap bisa mendorong terciptanya transaksi penjualan.
Saat krisis, pemilik properti membutuhkan agen yang bisa memberikan solusi. Kehadiran broker sudah menjadi solusi bagi mereka.
Eddie mengisahkan kalau dia pernah memiliki pengalaman kalau relasinya yang bekerja di perbankan memiliki klien. Sang klien nyaris batal membeli properti karena lokasi yang diincarnya sangat ketat dalam peruntukkan bangunan.
Klien ingin membuka usaha di daerah perumahan. Eddie bisa membantunya dengan mencarikan info kalau daerah tersebut ternyata ada perubahan peruntukkan.
Akhirnya, klien jadi membeli properti tersebut. Eddie mau membantunya meski bukan klien dan dia tidak mendapatkan komisi apa pun.
Dia mempunyai kisah lainnya terbilang berat dan relatif sulit diatasi. Eddie dan timnya memiliki klien yang tidak terbuka soal properti yang ingin dijual.
Menurutnya kalau seorang agen cenderung untuk menyerah karena suatu masalah, maka bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang lebih rumit lagi. Agen harus bisa membangun rasa percaya diri untuk menyelesaikannya.
Bagi Eddie, krisis menyimpan banyak peluang. Saat krisis, pemilik properti kadang rela melepas harga properti lebih rendah dari pasaran dan mereka akan mencari orang yang tepat untuk memasarkannya. Klien akan mencari agen properti yang tepat untuk hal ini.
Justru ketika menghadapi krisislah, peluang itu terbuka (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA).
10. Gigih Dalam Setiap Situasi

Agen properti memiliki banyak pekerjaan sehari-harinya. Dia bisa bertemu beberapa klien sekaligus dalam satu hari.
Selain itu, broker juga mengunjungi lokasi properti untuk melakukan pembaruan informasi dan tidak ketinggalan mencari properti baru. Tentunya agen properti harus selalu memperbarui jumlah listing-nya.
Ir. Eddie Muljawan Soetedjo memaparkan hal tersebut dalam bukunya yang berjudul The King of Property: 36 Secrets of Powerful Closing. Dia membahas sederetan tips dalam menjalankan profesi sebagai agen properti.
Menurutnya, agen properti harus bisa bekerja di belakang meja sama sigap dan gigihnya dengan beraktivitas di lapangan. Agen juga mesti tekun dalam menyusun daftar dan melakukan analisis pasar.
Eddie menyatakan dia membiasakan diri untuk menghadapi masalah hingga menemukan solusinya. Saat melakukannya, dia tidak sungkan untuk menghubungi siapa saja yang diyakini dapat membantu menyelesaikannya.
Dia bakal menghubungi siapa saja yang mempunyai keahlian dan kemudian membantunya. Lantaran itu juga, Eddie menjalin relasi dengan notaris, pihak perbankan, dan lainnya.
Bahkan, dia tidak sungkan untuk menghubungi orang tersebut saat menjelang waktu tidur atau larut malam sekali pun. Para relasinya sudah paham dengan kebiasaan Eddie yang gigih.
Menurutnya, kegigihan dan ketekunan tidak bisa hanya bermodalkan niat. Semua itu harus diwujudkan melalui praktik, langsung mengerjakan, tidak pernah menunda, dan selalu mengembangkan inisiatif.
Jadilah pejuang yang tangguh hari ini. Pahami situasinya, kuasai medannya (Ir. Eddie Muljawan Soetedjo CPA)
Nah itulah tadi 10 tips untuk menjadi Agen Properti dari ir. Eddie muljawan soeredjo.
Komentar
Posting Komentar